Jumat, 14 Juni 2013

Gojali Suta

Gojali Suta

Suasana sangat suram. seperti matahari tertutup mendung. seolah sangat sunyi tak ada sama sekali suara mahluk berkutik. suasana inilah yang menjadi perbawa di negeri trajutisna dan suroteleng.

saat itu raja trajutisna prabu sitidja alias boma narakasura merasa sangat sedih dan kecewa. karena istrinya Dewi Hagnyawanawati atau dei Mustikawati tak mau melayaninya sebagai suami. malah sang istri mabok kepayang dengan saudaranya sendiri yaitu raden samba wisnubrata.

susana sangat suram menyelimuti paseban agung. sang raja prabu sitidja cuma diam saja. sedangkan Prabu Supala, patih Pancadnyana, Ditya Maudara, Ditya Ancak Ogra, Ditya Yayahgriwa, Ditya Sinundha cuma bisa ikutan diam sambil memandang kosong ke lantai. mereka sangat takut melihat keadaan rajanya yang sedang bermuram durja. untuk memecah kesunyian maka sang raja prabu sitidja berkata kepada patihnya prabu supala:

“paman supala saya mengadakan pertemuan ini sengaja ingin membhas masalah raden samba dan dhiajeng Hagnyanawati. dua orang itu sudah bener bener kasmaran sampe dhiajeng Hagnyanawati dibawa pulang ke dwarawati. maksud saya daripada didengar orang luar, mending adik saya samba saya nikahkan dengan istri saya dhiajeng Hagnyanawati. lalu saya dudukan di kerajaan trajutisna dengan baik baik”

“sebentar kanjeng prabu, bukankah kelakuan adik baginda samba itu berarti telah berani melakukan tindakan mesum dan berkhianat kepada sang prabu?barani mengambil istri paduka sebagai pacarnya?bukankah itu sama dengan berani menginjak injak kepala sang prabu sendiri”

“tidak apa apa paman, karena samba itu adik saya yang paling saya sayangi. karena itu saya akan mengirim utusan ke dwarawati yaitu maudara dan ancak ogra untuk menghadap ke prabu kresna agar mau mengijinkan membawa samba dan hgnywati untuk saya nikahkan di trajutisna.”

kemudian prabu sutidja memberikan perintah kepada maudara dan ancak ogra untuk berangkat ke dwarawati untuk menghadap sri baginda kresna ayahnya untuk menyampaikan keinginan prabu boma narakasura. maka maudara dan ancak ogra segera berangkat.

di paseban agung kerajaan dwarawati. disana sang raja sri baginda raja bhatara kresna sedang berdiskusi dengan patih udawa dan raden setyaki. yang dibicarakan tidak lain adalah kelakuan raden samba yan telah merusak pagar ayu dengan membawa istri saudaranya sendiri untuk dijadikan sebagai kekasih. belum lama pembicaraan berlangsung datanglah ditya maudara dan ancak ogra.

setelah datang dan saling beramah tamah mereka mengatakan tujuan kedatanganya ke pada prabu kresna. lalu prabu bhatara kresna yang sudah mengetahui akan jadi apa lelakon ini mengijinkan raden samba untuk dibawa ke trajutisna. maka ditya maudara dan ancak ogra segera pamit dengan membawa raden samba ke trajutisna.
setelah kedua utusan pamit, setyaki maju menghadap bhatara kresna dan matur:
” kakanda prabu kenapa kakanda ijinkan mereka membawa raden samba?iya jika kedua utusan tadi berkata benar, bagaimana jika mereka berbohong dan ingkar janji?di sana nantinya raden samba bukan akan dinikahkan mlah akan dihukum?bagaimana kakanda prabu”

“wahai adiku setyaki, janagn berpikiran seperti itu. ingat semua itu sudah diatur takdir. walopun digedong baja sekalipun, jika sudah saatnya mati pasti terjadi. walopun dihujani tembakan peluru pun jika masih belom waktunya pasti kan selamat. adi setyaki jangan ikut campur, biarkan saja samba mau diapkan saja. yang jelas jangan sampe sitidja melawan dan melibatkan orang yang tanpa dosa!!. jika itu dilakukan apalagi melawan adi arjuna maka aku sendiri yang akan menghadapi sitidja anaku. sekarang adi setyaki bubarkan paseban pertemuan ini. saya mau tidur dan menenangkan hati”

diceritakan smapelah rombongan ditya maudara dan ancak ogra yang mengiring jaka samba ditengah hutan. disana 2 rksasa ini gak menerima kelakuan jka samba yang mengambil istri baginda rajanya. maka mereka berdua menyiksa jaka samba. sehingga jaka samba menjerit kesakitan. kebetulan saat itu datanglah arjuna yang kan menuju kerajaan dwarawati. kaget hati arjuna mendengar jeritan dari raden samba.
karena kaget maka arjuna segera bertanya dan mencegat rombongan itu:

“kalo ga salah ini maudara dan samba. kenapa ini kok badan samba biru biru seperti ini?dan kalian hendak pergi kemana?”

maudara menjawab:

“kalo raden arjuna bertanya maka sebenarnya saya dan ancak ogra menjalankan perintah kanjeng gusti sitidja untuk membawa anak mas raden samba ke trajutisna untuk di nikahkan dengan dewi hagnyawati. nah kenapa badan raden samba biru biru?karena kena duri dan onak di dalam hutan”

“apa benar seperti itu samba” tanya arjuna tidak percaya kepada samba.

“aduh paman itu tak benar, kenapa saya babak belur begini karena saya sebenernya digebuki oleh paman maudara dan ancak ogra”

karena marah maka maudara di tusuk oleh raden arjuna dengan pusaka pulanggeni hingga tewas dan balik ke asalnya yaitu bangkai burung dara. sementara ancak ogra diberikan surat tantangan yg ditulis arjuna untuk sitidja. karena temen seperjalananya tewas segera ancak ogra berlaripulang ke trajutisna. sementara raden samba dan dewi hagnywati untuk sementara waktu dipersilahkan menginap di kasatrian madukoro.

di kerajaan trajutisna sedang duduk prabu sitdja diatas singgasana dengan menhadap para bawahanya. tiba tiba datanglah ancak ogra dengan ngos ngosan dan berdarah darah. prabu sitidja sangat marah membaca surat tantangan. dan langsung menyerang madukoro. prabu sitidja naik diatas garuda wilmuna sementara semua prajuritnya berbaris didaratan.

tetapi sebelum tanding dengan arjuna prabu sitidja hendak mencari terlebih dahulu dimana raden samba yang menjadi pnyebab kejadian perkara ini. sementara perang pun pecah. baladewa, arjuna, setyaki, gatotkaca berperang melawan wadya bala dr trajutisna. perang besar pun pecah di madukoro.

diluar terjadi perang besar sementara di dalamkesatrin madukoro 2 muda mudi sedang bermadu asmara. yaitu raden samba dan dewi hagnywati. mereka berdua mabuk asmara bercumbu dan juga berpeluk peluk. apalagi raden samba merasa pamanya arjuna merestui dan melindungi dirinya. karena sedang asyik masyuk tak merasa ada endung yang tiba. itulah garuda wiluma yang segera turun. dan kagetlah raden samba melihat turunya garuda yang ditunggangi kakanya sitidja. segera raden samba tergopoh gopoh menghaturkan sembah.

“sembah saya kepada kakanda prabu, saya tak menyangka kakanda prabu sendiri yang akan datang kemari. mohon kakanda prabu mau memaafkan segla kesalahan hamba”

prabu seitidja berkata

“iya adiku, sebenarnya aku kesini akan marah kepada di samba, tp melihat adi seperti ini seolah hilang kemarahanku. sudahlah bukan watak trajutisna untuk marah cuma gara gara wanita”

ketika naik kembali ke garuda prabu sitidja mendengar omongan togog yang berkata:

“bagaimana sih ndoro?bukankah ndoro itu hendak marah dan menjatuhkan hukuman kepada samba yang telah merebut istri paduka?kenapa jadinya ketika sudah ketemu orangnya malah batal begini?”

lalu tanpa peringatan karena sangat marah dari atas garuda prabu sitidja melemparkan senjata limpung ke arah raden samba.sehingga lukanya sekujur tubuh. kemudian mengingat perang trajutisna dan madukoro terjadi karena samba plus melihat banyaknya mayat bergelimpangan. kemarahan prabu sitidja semakin membara. di hancurkanya tubuh samba. di robek mulutnya, dihancurkan hidungnya, tanganya dipatah dan dipuntir, lalu mayatnya dijuwing juwing. melihat keadaan ini dewi hagnywati menghunus patrem dan menusukan ke tubuhnya. ikut belapati.

sesudah itu prabu sitidja mengambil sisa mayat samba dan dilemparkan ke medan perang. dan sang prabu menaiki garuda untuk mengejar jatuhnya mayat. di medan perang para pandawa merasa sangat marah karena merasa tak mampu menjaga kselamatan raden samba.

sementara patih pancatnyana di gemplang senjata neggala oleh bladewa dan tewas seketika. semua wadyabala trajutisna mulai habis di bantai oleh gatokaca dan werkudoro serta setyaki. mengetahui ini segera prabu sitidja maju perang. terjadi perang dahsyat antara arjuna dan prabu sitidja. tetapi prabu sitidja punya ajian pancasona. mati 7 kali sehari bisa hidup kembali. jd tak ada guna. ahirnya arjuna memilih keluar dr perang dan bertapa lg dengan nama benggawan cipto ening 

karena malu arjuna keluar dr perang dan memilih betapa menjadi begawan cipto ening. mengetahui keluarnya arjuna maka para pndawa segera mencari bantuan sri bhatara kresna. malah sri bhatara kresna tidur tak bisa dibangunkan. bahkan diceritakan anaknya samba mati dijuwing juga tak bangun. sri bhatara kresna hanya bangun ketika diceritakan arjuna merasa malu dan keluar serta menghilang dr perang. rupanya sri bhatara kresna mengunjungi ibunyi sitidja yaitu dewi pratiwi di kayangan sapta pratala. di sana bhatara kresna menanyakan apa kelemahan sitidja. dei pratiwi menceritakan:

“sitidja punya aji pancasona tak akan mati selama masih menyentuh tanah. nah kelemahanya adalah sebuah anjang anjang besi. dalam episode topeng waja terjadi perkelahian antara sutedja dan gatotkaca. dimana topeng waja gatot di gemplang oleh senjata gamparan kencana milik sutedja lalu terjadi salah kedaden. ahirnya topeng itu berubah wujud jd anjang anjang besi di alas pramonokoti daerah pringgondani. itu pengapesan dr anak saya sitidja”

ketika bngun prabu kresna segera bilang kepada gatotkaca:

“jika nanti mayat saudaramu sitidja jatuh, segera bawa kabur ke alas pramonokoti dan baringkan di anjang anjang besi”

“baik paman prabu” kata gatotkaca

kemudian sitidja yang sedang menaiki garuda wiluma sedang terbang berputran di arena perang dilepasi senjata chakra oleh sri kresna. ahirnya tubuhnya terbelah dan jatuh kebumi lalu segera dibawa terbang oleh gatotkaca ke alas pramonoti dan diletakan di anjang anjang besi. sehingga matilah sitidja karena tak menyentuh tanah. maka berahirlah kisah perang gojali suta ini.

Raden Samba

Raden Samba

 
 Raden Samba adalah putera Prabu Kesna, raja Negara Dwarawati dengan Dewi Jembawati, puteri resi jembawan dengan Dewi Trijata. Raden Samba mempunyai saudara Kandung bernama Gunadewa. Ia juga memiliki enam saudara lain ibu, yaitu : Saranadewa, Partawesa dan Dewi titisari (dari Dewi Rukmini); Arya Setyaka (Dewi Setyaboma), Sitija dan Dewi Siti Sundari (Dewi Pretiwi).

Raden Samba  memiliki watak yang cerdik, pandai bicara,galak, congkak, sedikit pencecut dan ingin enaknya sendiri. Raden Samba digambarkan memiliki wajah yang sangat cakap dan tampan.

Samba adalah titisan Dewa Drema. Dewa Drema beristrikan Dewi Dremi yang keduanya telah berjanji akan berjumpa di dunia sebagai suami istri. Hyang Drema kemudian menitis kepada putera raja Dwarawati, Raden Samba. Namun Betari Dremi keliru, setibanya di dunia ia justru mengikuti putera raja Dwarawati yang bernama Raden Bomanarakasura (Sitija).

Setelah Raden Samba bertemu dengan Dewi Agnyanawati yang merupakan titisan Dewi Dremi, ia ingin menikahinya, sesuai dengan janji mereka. Namun keinginannya tersebut terhalang, karena Dewi Agnyanawati sudah menjadi menikah Raden Bomanarakasura. Akhirnya Samba berselingkuh dengan Dewi Agnyanawati dan melarikannya.

Raden Samba mati dibunuh oleh Bomanarakasura, badannya dicabik-cabik, hingga tidak karuan bentuknya.

Perkawinan Nakula

Perkawinan Nakula

Prabu Duryodana duduk di atas singhasana, dihadap oleh Pendeta Druna, Adipati Karna dan para Korawa. Raja membicarakan permintaan Dursasana. Dursasana jatuh cinta kepada Dyah Suyati, putri raja Ngawuawu Langit. Dyah Suyati disayembarakan. Barangsiapa yang dapat mengalahkan Endrakerata, boleh memperistri Dyah Suyati. Raja menugaskan Adipati Karna dan Jayadrata untuk mengusahakan menang sayembara. Setelah mereka berunding, raja masuk ke istana.

Kedatangan Prabu Duryodana disongsong oleh permaisuri, Lesmanawati dan para abdi. Raja bercerita tentang rencana perkawinan Dursasana dan sayembara. Kemudian raja bersamadi.

Adipati Karna dihadap oleh Patih Sakuni, Jayadrata, Kartamarma, Citraksa dan Citraksi. Mereka bersiap-siap ke negara Ngawuawu Langit. Setelah siap mereka berangkat.

Prabu Bajrawijaya raja Selabentara bermimpi, bertemu Dyah Suyati. Raja ingin melamarnya. Patih Kala Wisaya mengusulkan agar Kala Kekaya, Barajamingkalpa dan Kala Minangsraya pergi ke Ngawuawu Langit, untuk menyampaikan surat lamaran. Mereka segera berangkat, diikuti barisan perajurit raksasa.
Perjalanan mereka bertemu dengan barisan perajurit Ngastina. Terjadilah pertempuran, tetapi perajurit Selabentar meninggalkan medan perang, menyimpang jalan.

Nakula menghadap Bagawan Abyasa di Wukir Retawu. Ia meminta doa restu untuk mengikuti sayembara di negara Ngawuawu Langit. Sang Bagawan banyak memberi nasihat, kemudian Nakula disuruh berangkat. Nakula berangkat, Semar, Gareng dan Petruk menyertainya.

Di tengah perjalanan Nakula bertemu dngan barisan dari Selabentar. Terjadilah perkelahian seru. Perajurit raksasa musnah. Nakula meneruskan perjalanan.

Prabu Kridhakerata raja Ngawuawu Langit duduk di atas singhasana, dihadap oleh Jayakerata dan patih Keratabahu. Raja cemas atas sayembara yang diinginkan oleh Endrakerata.
Adipati Karna datang menyampaikan maksudnya, ia ingin mengikuti sayembara. Endrakerata telah siap di gelanggang adu kesaktian. Pertama-tama Jayadrata yang melawan, tetapi kalah. Selanjutnya yang melawan Kartamarma dan Adipati Karna, tetapi semua tidak mampu mengalahkan Endrakerata. Korawa kembali ke Ngastina dengan tangan hampa.

Yudisthira menerima kehadiran Kresna di Ngamarta. Yudisthira bertanya tentang kepergian Nakula. Kresna memberi tahu, bahwa Nakula sedang mengikuti sayembara. Yudisthira, Bima dan Arjuna diminta bantuannya.
Nakula telah tiba di Ngawuawu Langit, menghadap raja Kridhakerata. Nakula menyampaikan maksud kedatangannya, ia ingin mengikuti sayembara. Jayakerata dan Patih Keratabasa mengawal Nakula ke arena sayembara. Endrakerata telah diberi tahu, kemudian datang di gelanggang adu kesaktian. Endarakerata sungguh sakti. Sekali dipanah mati, kemudian hidup kembali. Semar mendekat Nakula, dan memberitahu caranya menghadapi kesaktian Endrakerata. Setelah diberi tahu oleh Semar, Nakula segera memanah untuk yang kesekian kalinya. Endrakerata kena panah, seketika musnah. Nakula menang dalam sayembara, lalu dipersilakan masuk istana.

Togog dan Sarawita datang menghadap raja Bajrawijaya, melapor tentang kematian para raksasa dan pemimpin perajuritnya. Raja marah lalu mempersiapkan perajurit, hendak menggempur kerajaan Ngawuawu Langit.

Prabu Kridhakerata menerima kehadiran Nakula yang dikawal oleh Jayakerata. Raja minta agar permaisuri mempersiapkan perkawinan Dyah Suyati dan Nakula.

Kresna bersama Yudisthira, Bima, Arjuna dan Sadewa tiba di istana Ngawuawu Langit, menghadap raja Kredhakerata. Sang raja bercerita tentang Nakula yang menang sayembara dan akan dikawinkan dengan putri raja bernama Dyah Suyati. Kresna dan Yudisthira menyetujuinya. Mereka bersiap-siap mengadakan upacara perkawinan.

Perajurit rakasa dari Selabentar datang, dipimpin oleh prabu Brajawijaya. Kresna menugaskan Bima dan Arjuna untuk menyongsong kedatangan musuh. Prabu Bajrawijaya mati oleh Bima, sedangkan perajurit raksasa musnah disapu oleh panah Arjuna.

Nakula dan Dyah Suyati dipersandingkan di pelaminan, para Pandhawa menghadirinya. Pesta perkawinan dilaksanakan dengan meriah. Tancep Kayon

Srikandi

Srikandi


 Dewi Wara Srikandi ialah putri Prabu Drupada di Cempalareja. Waktu remaja putri ia berguru memanah pada Raden Arjuna. Kemudian ia diambil istri oleh Arjuna. Asal mula Srikandi berguru memanah pada Arjuna. Waktu pengantin Arjuna dengan Dewi Wara Sumbadra, Srikandi datang menonton, ia melihat tingkah laku kedua pengantin itu, tertariklah Srikandi ingin menjadi pengantin.

Pada suatu hari Srikandi melihat Arjuna memanah yang diajarkan pada Rarasati, gundik sang Arjuna, Srikandi lalu datang berguru memanah pada Rarasati. Tetapi sebenarnya kehendak itu hanya untuk lantaran saja, supaya dapat ketemu dengan Arjuna.

Tingkah laku Srikandi yang demikian ini menjadikan murka Dewi Drupadi, permaisuri Prabu Puntadewa, kakak perempuan Srikandi dipandang bahwa tingkah laku Srikandi itu tak baik.

Dewi Wara Srikandi pernah dipinang oleh raja Prabu Jungkungmardea di negeri Parangkubarja, hingga ramanda Dewi Wara Srikandi Prabu Drupada tergiur menerima pinangan itu, tetapi Dewi Wara Srikandi lalu mengadu pada Raden Arjuna, dibelalah Srikandi oleh Arjuna dan Jungkungmardea dibunuh oleh Arjuna. Selanjutnya Srikandi diperisteri oleh Arjuna dengan adat kebesaran secara perkawinan putera dan puteri.
Tabiat Srikandi sebagai tabiat laki-laki, gemar pada peperangan, karena itu ia disebut puteri prajurit. Hingga masa dewasa ini, wanita-wanita yang berani menentang sesuatu yang tak baik, terutama yang mengenai bangsa Indonesia disebut Srikandi.

Srikandi seorang puteri penjaga keamanan negeri Madukara, ialah negeri Arjuna. Perkataan-perkataan Srikandi sedap didengarnya Serta penuh dengan senyuman. Waktu ia marah tak tampak kemarahannya itu, akan tetapi mendatangkan takut pada siapa juga.

Srikandi seorang puteri yang suka marah, tetapi kemarahan itu lekas reda. Tanda bahwa ia sedang marah, merujaklah ia dan dimakan sambil berkata-kata keras tak berkeputusan. Kalau sangat marah, ada tanda memecah barang barang pecah belah, segala burung perkutut kepunyaan Arjuna dilepas-lepaskan. Pada waktu Srikandi sedang marah ini, dapat digambarkan pada kata-kata dalang, yang mudah mentertawakan para penonton.

Dalam perang Baratayudha Srikandi diangkat jadi panglima perang melawan Bisma., panglima perang Kurawa, hingga Bisma tewas olehnya,

Srikandi seorang puteri perwira yang senantiasa menjaga kehormatan suami, di masa aman dan di masa perang. Ternyatalah bahwa Dewi Srikandi seorang puteri prajurit, tak hanya perang pada kebiasaan perang, pun di medan perang Baratayudha berperang juga sebagai prajurit perwira. Sehabis Baratayudha Srikandi tewas oleh Aswatama, anak Durna, lehernya dipenggal waktu ia sedang tidur nyenyak.

Pesan "Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu"

Pesan "Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu"

 Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebuah pesan yang diajarkan dalam pewayangan yang mengajarkan manusia untuk melakukan tindakan-tindakan yang benar sehingga menghasilkan kehidupan yang harmonis. Di dalam Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu terdapat 7 tahapan hidup yakni:


1. Tapaning jasad, yang berarti mengendalikan/menghentikan daya gerak tubuh atau kegiatannya. Janganlah hendaknya merasa sakit hati atau menaruh balas dendam, apalagi terkena sebagai sasaran karena perbuatan orang lain, atau akibat suatu peristiwa yang menyangkut pada dirinya. Sedapat-dapatnya hal tersebut diterima saja dengan kesungguhan hati.


2. Tapaning budi, yang berarti mengelakkan/mengingkari perbuatan yang terhina dan segala hal yang bersifat tidak jujur.


3. Tapaning hawa nafsu, yang berarti mengendalikan/melontarkan jauh-jauh hawa nafsu atau sifat angkara murka dari diri pribadi. Hendaknya selalu bersikap sabar dan suci, murah hati, berperasaan dalam, suka memberi maaf kepada siapa pun, juga taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh, dan berusaha sekuat tenaga kearah ketenangan (heneng), yang berarti tidak dapat diombang-ambingkan oleh siapa atau apapun juga, serta kewaspadaan (hening).


4. Tapaning sukma, yang berarti memenangkan jiwanya. Hendaknya kedermawanannya diperluas. Pemberian sesuatu kepada siapapun juga harus berdasarkan keikhlasan hati, seakan-akan sebagai persembahan sedemikian, sehingga tidak mengakibatkan sesuatu kerugian yang berupa apapun juga pada pihak yang manapun juga. Pendek kata tanpa menyinggung perasaan.


5. Tapaning cahya, yang berarti hendaknya orang selalu awas dan waspada serta mempunyai daya meramalkan sesuatu secara tepat. Jangan sampai kabur atau mabuk karena keadaan cemerlang yang dapat mengakibatkan penglihatan yang serba samar dan saru. Lagi pula kegiatannya hendaknya selalu ditujukan kepada kebahagiaan dan keselamatan umum.


6. Tapaning gesang, yang berarti berusaha berjuang sekuat tenaga secara berhati-hati, kearah kesempurnaari hidup, serta taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengingat jalan atau cara itu berkedudukan pada tingkat hidup tertinggi.


7. Rasajati yang merupakan tujuan dan inti dari 6 diatas, memperlambangkan jiwa atau badan halus ataupun nafsu sifat tiap manusia, yaitu keinginan, kecenderungan, dorongan hati yang kuat, kearah yang baik maupun yang buruk atau jahat. Nafsu sifat itu ialah; Luamah (angkara murka), Amarah, Supiyah (nafsu birahi). Ketiga sifat tersebut melambangkan hal-hal yang menyebabkan tidak teraturnya atau kacau balaunya sesuatu masyarakat dalam berbagai bidang, antara lain: kesengsaraan, malapetaka, kemiskinan dan lain sebagainya. Sedangkan sifat terakhir yaitu Mutmainah (nafsu yang baik, dalam arti kata berbaik hati, berbaik bahasa, jujur dan lain sebagainya) yang selalu menghalang-halangi tindakan yang tidak senonoh.

Bilamana manusia mengikuti tahapan diatas, Insya Allah, tidak akan ada kekerasan, dendam, permusuhan, pemimpin yang lupa atau kejam. Disini saya hanya menyampaikan pesan saja kepada masyarakat yang lupa akan budayanya terutama para remaja. Bila saya melakukan kesalahan, mohon maaf.......

Perkawinan Arjuna dengan Gandawati

Perkawinan Arjuna dengan Gandawati


Prabu Kresna dihadap oleh Patih Udawa, Satyaki dan keluarga Dwarawati. Prabu Kresna memberi tahu tentang kepergian Arjuna dari Madukara. Prabu Kresna ingin mencarinya. Perundingan selesai, kemudian bubaran. Prabu Kresna berpamitan dengan tiga isterinya yaitu Rukmini, Jembawati dan Setyaboma.
Prabu Dewasarana raja negara Tunggulmalaya, berbicara dengan sanak saudara tentang rencana pelamaran ke negara Tasikmadu. Tiga raksasa disuruh mencari letak kedudukan negara itu
Bagawan Abyasa menemui kedatangan Arjuna dipertapaan wukir Retawu. Arjuna disuruh pergi ke negara Tasikmadu yang rajanya sedang mengalami kesedihan, karena anak perempuannya dilamar oleh banyak raja. Arjuna minta pamit, lalu berangkat ke negara Tasikmadu

Prabu Gandasena raja negara Tasikmadu dihadap oleh Raden Madusadana. Raden Madusadana dan Patih Gandasaraya disuruh pergi untuk mencari perlindungan kepada kesatria yang sakti. Mereka berdua minta pamit, lalu berangkat meninggalkan kerajaan.

Raden Madusadana berjumpa dengan pasukan raksasa dari Tunggulmalaya. Terjadilah perkelahian. Raden Madusadana tidak mampu melawan perajurit Tunggulmalaya, lalu menyimpang jalan. Kemudian bertemu dengan Arjuna, lalu bercerita tentang maksud kepergiannya. Arjuna sanggup membantu, mereka kembali ke Tasikmadu.

Prabu Yudhistira didatangi Prabu Kresna. Mereka memperbincangkan kepergian Arjuna. Prabu Kresna ingin mencari, lalu meminta agar Wrekodara dan Gathotkaca mengikutinya. Mereka bertiga berangkat meninggalkan Ngamarta.
Arjuna dan Raden Madusadana menghadap Prabu Gandasena. Arjuna ditanya asal mula dan riwayat hidupnya. Raja bercerita tentang musuh yang akan datang di negara Tasikmadu. Arjuna ingin menyongsong kedatangan musuh dari Tunggulmalaya. Raden Madusadana mengikutinya.

Bathara Bayu dan Bathara Brama disuruh mencari Gandawati untuk melengkapi jumlah bidadari di Kahyangan. Bathara Bayu berujud gajah putih, Bathara Brama berwujud raksasa. Mereka turun ke marcapada bertemu dengan Arjuna. Arjuna tidak merelakan bila Gandawati ditarik ke Kahyangan. Maka terjadilah perkelahian. Gajah putih dipanah, kembali menjadi Bathara Bayu. Raksasa dipanah kembali menjadi Bathara Brama. Mereka berdua kembali ke Kahyangan. Arjuna dan Madusadana kembali ke istana. Arjuna dikawinkan dengan Dewi Gandawati.

Prabu Dewasarana, Dyah Retnawati dan perajurit Tunggulmalaya datang di negara Tasikmadu. Patih Gandasaraya memberitahu kepada raja Tasikmadu, bahwa musuh dari Tunggulmalaya sudah datang. Arjuna dan Madusadana menyongsong kedatangan musuh. Arjuna berhadapan dengan Prabu Dewasarana. Arjuna terkena senjata Trotustha, dan berubah menjadi arca batu. Madusadana lari ketakutan, kembali ke istana, memberi tahu kepada raja Tasikmadu.

Prabu Dewasarana masuk ke istana mencari Dewi Gandawati. Dewi Gandawati dikejar-kejar, lari dari keraton. Ia bertemu Prabu Kresna dan Wrekodara. Ketika ditanya ia mengaku isteri Arjuna. Prabu Kresna tahu, bahwa Dewi Gandawati dikejar-kejar Prabu Dewasarana. Dewi Gandawati disuruh kembali pura-pura menyerah kepada Prabu Dewasarana. Prabu Kresna berpesan agar Dewi Gandawati berusaha mengetahui kesaktian Prabu Dewasarana.

Wrekodara marah, lalu mencari Prabu Dewasarana. Wrekodara terkena senjata Tritustha, berubah menjadi arca batu.

Dewi Gandawati menemui Prabu Dewasarana. Prabu Dewasarana amat gembira. Sewaktu bercumbuan, raja bercerita tentang kesaktian senjata Tritustha. Bila senjata Tritustha itu dipukulkan sekali, orang akan menjadi arca batu. Bila kemudian dipulkan kembali, arca batu tersebut akan kembali menjadi orang seperti asal mula. Dewi Gandawati berhasil memegang Tritustha, lalu dihantamkan kepada Prabu Dewasarana. Prabu Dewasarana menjadi arca batu. Kemudian Dewi Gandawati memukul dua arca batu dengan Tritustha dan kembali menjadi Arjuna dan Wrekodara.

Arjuna mengajak Prabu Kresna dan Wrekodara masuk ke istana Tasikmadu. Prabu Gandasena menghormat kedatangan tamu-tamunya, dan bercerita tentang Arjuna yang telah diambil menantu. Atas persetujuan Prabu Kresna, Arjuna dinobatkan menjadi raja di Tasikmadu, bergelar Prabu Arjunawibawa.
Perajurit Prabu Dewasarana datang menyerang Tasikmadu. Gatotkaca dan Wrekodara diserahi untuk memusnahkan musuh.

Negara Tasikmadu telah aman dan damai. Para Pandhawa, Prabu Kresna dan keluarga kerajaan Tasikmadu mengadakasn pesta penobatan Prabu Arjunawibawa.

Burisrawa

Burisrawa

 Burisrawa adalah anak nomor empat diantara lima bersaudara, anak dari pasangan Prabu Salya dan Dewi Setyawati, dengan urutan sebagai berikut : Dewi Erawati isteri Prabu Baladewa raja Mandura, Dewi Surtikanti isteri Adipati Karna raja Awangga, Dewi Banowati isteri Prabu Duryudana raja Hastinapura, kemudian Burisrawa dan yang bungsu adalah Raden Rukmarata. Jika empat saudara Burisrawa berparas cantik-cantik dan tampan, tidak demikian halnya dengan Burisrawa. Walaupun ia lehih gagah dan perkasa dibanding Rukmarata, ia bermuka raksasa yang menakutkan. Menurut pendapat banyak orang, Burisrawa adalah korban dari perbuatan orang tuanya pada waktu muda. Saat itu ayah Burisrawa malu mempunyai mertua Bagaspati yang adalah seorang begawan bermuka raksasa. Karena rasa malu itu Salya muda tega membunuh Bagaspati mertuanya.

Selain mukanya yang jelek, Burisrawa tidak seberuntung saudara-saudaranya. Sepanjang hidup Burisrawa tidak pernah mendapatkan cinta yang didamba siang malam dari Dewi Sembadra, adik Baladewa. Saat masih remaja ia pernah menggoda gadis pujaannya itu, tetapi ia dihalang-halangi oleh Setyaki adik sepupu Baladewa. Burisrawa pun marah dan berkelahi dengan Setyaki. Keduanya mempunyai kesaktian yang imbang, sama-sama kuat dan tidak ada yang mau mengalah. Perkelahian mereka baru berhenti setelah datang Baladewa orang yang paling ditakuti oleh keduanya untuk melerai. Pada kesempatan itu, Baladewa menjanjikan bahwa kelak Burisrawa akan dikawinkan dengan Sumbadra. Di satu sisi Burisrawa lega atas janji Prabu Baladewa, namun disisi lain ia masih menyimpan dendam yang membara kepada Setyaki. Demikian pula dengan Sentyaki, dendamnya tak pernah padam.


Selang beberapa tahun, perkelahian antara ke duanya terjadi lagi ketika Burisrawa mengamuk di Dwarawati, karena kalah bersaing dengan Arjuna dalam memenuhi tukon pengantin yang sesuai dengan permintaan Baladewa. Perkelahian ini pun terpaksa berhenti karena dilerai oleh Baladewa, namun mereka bersumpah, bahwa keduanya akan bertemu lagi dalam perang besar Baratayuda kelak. Dan perang itu adalah perang terakhir, karena tidak akan berhenti lagi sebelum salah satu diantaranya mati.


Sumpah Burisrawa dan Setyaki ini menjadi kenyataan. Saat perang Baratayuda berlangsung, Burisrawa menjadi senapati di pihak Kurawa dan Setyaki menjadi senapati di pihak Pandawa, dan ke duanya berperang atas nama dendam. Sesungguhnya dalam perang terakhir itu Burisrawa lebih unggul dalam hal stamina. Setyaki telah kehabisan tenaga dan tak berdaya di bawah cengkeramannya Burisrawa. Namun pada saat kritis, bantuan dari Arjuna datang. Burisrawa mati terkena panah Arjuna, dengan demikian Setyaki terselamatkan.


Burisrawa gugur dalam perang besar Baratyuda, meninggalkan satu isteri yaitu Dewi Kiswari anak Prabu Kiswamuka Raja Negeri Cindekembang dan satu anak yang diberi nama Arya Kiswara.


==============================

 Raden Burisrawa putera Prabu Salya di Madraka, bermuka raksasa keturunan kakek Begawan Bagaspati, seorang pendeta raksasa. Juga disebut kesatria di Madyapura. Burisrawa bertabiat kasar dan suka tertawa. Pada suatu kali berjumpa dengan Dewi Wara Sumbadra, saudara Sri Kresna, di Mandraka. Burisrawa jatuh cinta padanya, hingga sampai pada ajalnya tak pernah ia beristri dan senantiasa tergila-gila pada Wara Sumbadra.

Dengan pertolongan Betari Durga, Burisrawa pernah bertemu dengan Wara Sumbadra, tetapi Wara Sumbadra lalu bunuh diri. Kejadian itu ada dalam lakon Sumbadra Larung, yaitu mayat Sumbadra yang dihanyutkan dalam perahu di sungai Silugangga.

Oleh karena Burisrawa bermuka raksasa, merasa malulah ia ketika menghadap raja. Maka Raden Burisrawa membuat tempat menghadap sendiri yang ditutup dengan kerai, ia bersembunyi di belakang kerai tersebut. Setelah semua menghadap maka datanglah Raden Rukmarata, adiknya untuk mengabarkan berita hari itu.
Pada lakon Sumbadra larung ia kena tipu Dewi Wara Sumbadra waktu habis bangun dari kematiannya, Dewi itu ketemu dengan Burisrawa. Ketika berjumpa Sumbadra, maka atas anjuran Antareja dan Gatotkaca, Burisrawa akan dicari kutu kepalanya, dengan janji tiap-tiap.dapat kutu akan diketuk sekali di kepalanya. Disanggupinya permintaan itu oleh Burisrawa dengan besar hati. Tetapi. sebenarnya yang mengetuk kepalanya itu Antareja dan Gatotkaca. Peninglah Burisrawa waktu diketuk dan akhirnya tahulah ia penyebabnya. Burisrawa meninggalkan tempat itu dengan mengeluh dan mengadu kepada Prabu Baladewa sehingga menyebabkan perang.