Senin, 10 Juni 2013

Sumantri dan Sukrasana

Sumantri dan Sukrasana


 Di tanah lapang itu, Sumantri tersungkur. Rahwana berhasil membunuhnya setelah pertempuran yang panjang. Tubuh anak muda itu setengah hancur. Ya, Sumantri gugur dengan mengenaskan. Tapi ia segera melesak ke surga. Dan di sana, Patih Suwondo itu bertemu dengan Sukrosono, adiknya yang setia. Mereka seperti mengulang kembali masa kanak-kanak yang bahagia, melupakan dendam dan rasa bersalah. Tragedi ”anak panah” di antara keduanya bagai tak pernah terjadi.

Kita kenang perjalanan Sumantri sebelum menjadi Patih Suwondo. Sejak awal, anak muda ini memang telah menyiapkan masa depannya. Ia menuju Maespati untuk mengabdi pada Prabu Harjuna Sasrabahu. Sebab ia merasa mampu, juga pantas .
Pada pagi yang belum sempurna, ia melangkah ke utara. Ia tinggalkan Sukrosono, adiknya yang bocah bajang yang buruk rupa, keriting, cebol, dan agak hitam itu. Dengan penampilan fisik semacam itu, mungkin Sumantri merasa adiknya hanya akan menjadi perintang. Meski ia tahu, kesaktian Sukrosono satu tingkat di atasnya. ”Aku sengaja pergi pagi-pagi benar pada saat kau masih lelap. Maafkan aku, adikku,” kata Sumantri pada hari kepergiannya.
Barangkali Sumantri memang laki-laki pilihan dewa. Dalam suatu pertempuran, ia berhasil membebaskan Negeri Magada dari kepungan pasukan Widarba. Ia menang telak. Pasukannya membawa banyak tawanan dan rampasan; emas-berlian, ternak, dan para putri. Tapi Sumantri tak segera pulang. Di perbatasan, ia justru mengirim surat ke Maespati dan menantang Harjuna Sasrabahu perang tanding. Ada kesombongan yang tiba-tiba melonjak. Juga ketidakpercayaan akan kekuatan dan kesaktian sang raja.
Setidaknya, ada dua tafsir tentang sikap itu. Pertama, Sumantri sekadar ingin lebih meyakinkan diri tentang kepatutan raja yang ia abdi. Kedua, ia tengah mabuk kemenangan. Apa pun alasannya, Sumantri akhirnya kalah melawan prabu Harjuna Sasrabahu , dan ia menerima hukumannya: untuk memindahkan Taman Sriwedari dari khayangan ke istana. Sebuah tugas yang mustahil dan membuat Sumantri hampir putus asa.

Namur disaat itu Sukrosono adiknya datang. Dengan kesaktiannya, tugas itu ia selesaikan dengan baik. Sayang, kehadiran Sukrosono yang buruk rupa membuat kekacauan para penghuni keputren yang sedang menyaksikan keindahan taman Sriwedari. Sumantri malu dan meminta adiknya segera pergi. Tapi Sukrosono menolak. Hingga akhirnya Sumantri membidikkan anak panah ke arahnya. Tanpa diduga anak panah lepas. Sumantri kaget, tapi terlambat. Adiknya tewas terkena panahnya. Manusia macam apakah Sumantri? Dalam Tripama, sebagai patih Suwondo ia disebutkan memiliki tiga kelebihan; pandai, selalu menyelesaikan pekerjaannya, dan jika perlu mempertaruhkan nyawa. Tapi serat itu juga menyimpan satu pertanyaan penting; apakah Sumantri memiliki hati nurani? Itulah masalahnya. Dan tak hanya dalam jagad pewayangan, di dunia yang real sekarang ini -komunitas kesenian atau apapun- Sumantri berkeliaran. Ia mengambil manfaat pada saat membutuhkan, kemudian mencampakkan ketika mulai merasa jijik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar