Jumat, 14 Juni 2013

Alap-alapan Surtikanti

Alap-alapan Surtikanti

 DEWI SURTIKANTI adalah putri kedua Prabu Salya, raja negara Mandaraka dengan permaisuri Dewi Pujawati/Setyawati, putri tunggal Bagawan Bagaspati dari pertapaan Argabelah.
dewi Surtikanti mempunyai empat saudara kandung masing-masing bernama; Dewi Erawati, Dewi Banowati, Arya Burisrawa dan Bambang Rukmarata.
Dewi Surtikanti menikah dengan Basukarna/Adipati Karna, raja negara Awangga/Angga (Mahabharata) putra Dewi Kunti dengan Bathara Surya. Dari perkawinan tersebut, ia memperoleh dua orang putra bernama : Warsasena dan Warsakusuma.
Dewi Surtikanti berwatak ; penuh belas kasih, setia, sabar dan sangat berbakti. Ia mati bunuh diri untuk bela pati atas kematian suaminya.
Dewi Surtikanti tewas sebelum Adipati Karna gugur dalam perang tanding dengan Arjuna dalam perang Bharatayuda karena kesalahan dan keteledoran ucapan Adimangala, patih negara Awangga yang mengucapkan ; Adipati Karna minta sedah / sirih terucapkan menjadi Adipati Karna Seda / Mati.

===================================

Dewi Surtikanti putri kedua Prabu Salya, raja negara Mandraka. Putri ini pertamatama dipertunangkan dengan Prabu Suyudana, raja negara Astina. Tetapi pada waktu itu Surtikanti sudah berkenalan dengan Raden Suryaputra (Karna)

Perkenalan Suryaputra dengan Surtikanti berlangsung secara rahasia, tetapi ketahuan juga oleh Raden Permadi (Arjuna). Berperanglah ksatria itu. Suryaputta kepegang Permadi akan dipenggal lehernya dan terluka pada pelipisnya.

Pada saat itu turunlah Resi Narada, seorang Dewa dari kahyangan memisahkan kedua ksatria itu, menerangkan kepada Permadi bahwa yang dihadapinya adalah saudara tuanya sendiri dan mengatakan seharusnya Permadi membantu terlaksananya perkawinan Suryaputra dengan Surtikanti. Sang Hyang Narada kemudian mehadiahkan kepada Suryaputra sebuah mahkota untuk menutupi luka dipelipisnya dan sejak itu bermahkotalah Suryaputra.

Perang antara kedua ksatria itu demikian indahnya., hingga dijadikan sebuah tarian terkenal dengan nama tari wirong yang menggambarkan perang antara Permadi (Arjuna) dan Suryaputra. Tarian tersebut dikenal juga dengan nama Wireng Karna Tinanding.

===================================

Alap-alapan Surtikanti

Dalam lakon ini, diceritakan keresahan Prabu Salya setelah mendapat laporan tentang adanya seseorang yang serupa dengan Permadi (Arjuna semasa muda) sering memasuki keputren pada malam hari.

Karena secara tak langsung Permadi menjadi tertuduh, ia menyanggupi akan menangkap orang yang melarikan putri Prabu Salya itu dalam waktu satu minggu. Melalui perang tanding seru, akhirnya Permadi bisa menangkapnya. Ternyata yang sering datang ke keputren menjumpai Dewi Surtikanti adalah Suryaputra alias Karna.

Sementara itu, dibantu oleh Permadi, Suryaputra berhasil mengalahkan Prabu Karnamandra, raja Awangga. Sesudah menjadi raja di Awangga, Suryaputra alias Adipati Karna dikawinkan dengan Dewi Surtikanti, atas usaha Permadi alias Arjuna.

Kisah Cinta Banowati

Kisah Cinta Banowati


Lelaki itu bernama Aswatama. Ia anak Pandita Drona. Ia punya rindu-dendam terhadap perempuan. Mengapa? Inilah kisahnya.

Syahdan, Prabu Salya raja Mandaraka mempunyai tiga orang putri. Semuanya rupawan. Ialah Erawati, Surthikanti dan Banowati. Yang paling cantik sekaligus binal namanya Banowati. Disamping cantik dan binal ia molek. Banyak lelaki melambungkan khayalan padanya. Hukum dunia telah digariskan, wanita cantik berjodoh dengan lelaki rupawan. Yang binal dapat yang jalang. Banowati juga tahu hukum dunia itu. Karenanya ia berani jatuh hati pada Arjuna, sang penengah Pandawa, lelananging jagad – pejantan dunia, lelaki paling jalang diantara yang jalang. Gayung bersambut. Playboy dunia wayang itu tidak menampik Banowati. Maka terjadilah percintaan yang membirahi.

Di tempat lain Prabu Drupada raja Panchala terluka hatinya karena ulah Pandita Drona. Drupada lantas melakukan ritual Putrakama Yadnya, ritual memohon anak, dengan tujuan anak tersebut kelak sebagai sarana untuk membunuh Drona. Lahirlah dua orang, yang lelaki diberi nama Drestajumna, yang perempuan Dropadi. Malang nian anak-anak ini, mereka dimohonkan lahir kedunia dengan ungkapan dendam.
“Wahai Drestajumna pergilah ke penjuru bumi. Timbalah ilmu dari guru-guru sakti karena kelak takdir menuntutmu untuk membunuh Drona, guru yang sombong dan tidak adil itu.”

Drestajumna menuruti ayahandanya. Ia harus kukuh sebagai mesin pembunuh. Berat rasanya menjadi calon pembunuh secara sadar sejak awal. Kenapa pula harus Drona. Guru para Pandawa sekaligus Kurawa. Tetapi ia harus patuh pada ayahnya. Ia pergi. Mempersiapkan pembunuhan yang menentukan itu.
Sebagai ayah, Drona begitu sayang pada Aswatama. Seisi dunia akan ditampiknya jika harus diganti dengan Aswatama, kebanggaannya. Drona bersumpah akan rela menyusul mati jika Aswatama mati. Sumpah itu – seperti biasa – dicatat oleh dewa, dan, seperti biasa akan dibocorkan kelak pada saatnya.

Drona memang seorang guru yang mumpuni. Tetapi ia tidak adil. Kepada Aswatama ia memberi pelajaran lebih, melebihi apa yang ia berikan kepada Pandawa dan Kurawa. Lambat namun pasti Aswatama telah menjelma menjadi paling tangkas dan sakti. Tetapi Aswatama tahu diri, ia bukan kasta ksatria, ia lebih baik tidak menonjolkan diri. Biarlah para ksatria dunia yang menonjol, ia cukup dibelakang layar saja. Toh ia bisa mengambil peran lain.

Sesungguhnya Aswatama tak luput dari pesona Banowati. Ia tergila-gila. Tetapi ia selalu diajari untuk tampil dibelakang layar. Mental seperti inilah yang menjadikan Aswatama tidak berani menyatakan cinta pada Banowati. Aswatama tahu diri, ia bukan ksatria. Aswatama menanggung pilu saat Banowati semakin dekat dengan Arjuna. Aswatama dendam, tetapi tidak berdaya. Nyatalah sudah bahwa di jaman kuno, kasta adalah segalanya.

Malam telah gelap memekat bersenggama dengan bau wangi dupa yang menaburi dingin. Suasana yang sempurna bagi insan yang menyimpan rahasia. Tetapi tidak bagi mata Aswatama. Ia bisa memahami dan memastikan, di sudut sana, pujaan hatinya tengah berdua dengan Arjuna. Saat-saat yang selalu dilanjutkan dengan percumbuan dan persetubuhan. Asawatama terluka, tetapi tidak berdaya. Oh Banowati, mengapa kau begitu hina. Tetapi…tetapi…aku cinta.

Pertentangan Pandawa dan Kurawa semakin hebat. Kedua kubu semakin aktif membangun aliansi. Pada pertemuan di Balairung Hastina, Sangkuni memberi petuah pada Doryudana.

“Wahai raja Astina memang sudah menjadi kehendak dewata jika perang bakal meletus. Perang tentu akan dimenangkan oleh pihak yang lebih kuat dan lebih banyak mendapat dukungan dari negara sahabat. 

Hendaknya sang prabu membangun persekutuan dengan cara apapun. Ada satu kerajaan yang harus segera paduka dekati karena disamping mereka kuat juga telah condong hatinya kepada Pandawa, ialah negeri Mandaraka yang dipimpin Prabu Salya.”

“Bagaimana mungkin kita bisa merebut hati Prabu Salya, sedangkan mereka bertetangga dengan Pandawa sejak jaman kuno, wahai patihku. Bukankah Salya itu juga ipar Pandu, ayah Pandawa.
Sangkuni terkekeh. Dari mulutnya yang bau kemenyan meluncurlah saran yang jitu.

“Paduka jangan berkecil hati. Prabu Salya punya tiga orang putri. Pinanglah salah satunya. Perkawinan paduka akan menyatukan dua kerajaan.” Doryudana terkesima.

Tetapi memang Balairung itu terlalu terbuka. Banyak kuping yang mendengar. Dalam tempo tidak seberapa lama setelah pertemuan itu muncul kabar, Erawati diculik oleh Baladewa untuk diperistri, sedangkan Surthikanti dilarikan Karna untuk maksud yang sama. Salya yang sombong keberatan jika Erawati diperistri oleh Baladewa, keberatan mana baru mencair setelah Salya tahu bahwa Baladewa juga raja di Mandura.
Sedangkan Surthikanti diikhlaskan menjadi milik Karna sebagai jaminan kesetiaan agar bersedia membela Kurawa saat bharatayuda. Tinggal satu yang tersisa : Banowati. Tetapi Doryudana ragu, bukankah ia telah berpacaran dengan Arjuna, musuh besarnya. Tetapi ini politik. Keraguan harus disimpan dilaci kusam.
Pinangan segera dilakukan. Salya akhirnya menerima pinangan itu karena Doryudana memberikan seserahan harta yang berlimpah. Tetapi Banowati menolak dengan cara sangat halus. Banowati menetapkan syarat yang pastinya akan ditolak oleh Doryudana. Apakah itu?

“Rama Prabu, saya akan menerima pinangan Doryudana tetapi dengan satu syarat yaitu kelak menjelang perkawinan, saya minta dalam ritual siraman dimandikan diruang tertutup.” Mendengar penuturan putrinya Salya tersenyum. Itu hal yang mudah.

“Yang memandikan adalah Arjuna.” Salya terdiam.

Itu mustahil.

Mendengar syarat itu Doryudana begitu terpukul. Harga dirinya tersinggung dahsyat. Bagaimana mungkin calon pengantinnya mandi siraman dengan Arjuna. Tetapi Patih Sangkuni segera menengahi.

“Paduka, sebaiknya syarat itu diterima saja. Kemenangan di Kurusetra jauh lebih penting dari pada persyaratan yang remeh-temeh itu. Ingatlah bahwa Paduka adalah seorang raja yang bertugas melindungi seluruh Hastina. Para Nabi dan bijak bestari pun sejak dahulu hingga kedepan senantiasa melangsungkan perkawinan politik, demi negara, ingat itu sang Prabu.”

“Tetapi bukan dengan cara seperti ini paman patih.”

“Coba Sang Prabu pikir kembali, Mandaraka punya seratus ribu prajurit. Jumlah sebanyak itu akan jatuh ketangan Pandawa manakala Banowati diperistri Arjuna. Sang Prabu harus bertindak cepat, jangan sampai Banowati terlepas seperti halnya Erawati dan Surthikanti. Toh nanti sang Prabu bisa mengambil istri lagi.” Kalimat terakhir ini diucapkan Sangkuni dengan mata berkedip-kedip.

Doryudana yang lemah itu akhirnya menuruti kata Sangkuni. Godaan kekuasaan menutupi kehormatan. Pernikahan tanpa cinta dari kedua belah pihak akhirnya dilangsungkan juga. Sejak itu, Aswatama semakin tenggelam dalam perasaannya sendiri yang tidak jelas. Sebagai pelampiasan Aswatama giat berlatih olah keprajuritan. Ia merasa akan mengambil peran menentukan dalam bharatayuda. Ia semakin tak tertandingi.
Banowati walau telah menjadi istri Doryudana tetap membuka hati, baju dan kutangnya untuk Arjuna. Ini dilakukan tidak sekali, tetapi berkali-kali, saat Doryudana bertugas menghimpun koalisi atau berburu di hutan. Dan Aswatamalah yang paling tahu tentang rahasial itu. Rasa cintanya belumlah pupus, karenanya ia selalu mengamati sang dewi, termasuk kala Arjuna menyelinap ke taman sari. Aswatama tahu, cemburu, dendam, tetapi tidak mampu. Wahai dewata, apa yang harus aku perbuat dengan kenyataan ini. Aswatama pernah melaporkan ihwal perselingkuhan itu kepada sidang kerajaan, tetapi dimentahkan oleh Salya, dikatakan bahwa Aswatama hanya cemburu dan berhalusinasi.

Sampailah saat yang mengguncang marcapada. Banowati melahirkan bayi laki-laki. Kebetulan saat itu Doryudana dan keluarga Kurawa sedang di luar kerajaan sehingga tidak melihat langsung rupa bayi yang baru dilahirkan, ia begitu mirip dengan Arjuna. Dengan cepat Banowati mengirim pesan ke Arjuna, bahwa aib dan hukuman akan menimpanya karena rupa bayi itu. Lelananging jagad itu berdoa agar diberi perlindungan. Alhasil bayi itu berubah wajah menjadi figur yang sedemikian berbeda. Bayi itu diberi nama Lesmana Mandrakumara. Sekali lagi – dalam pewayangan – saya menyaksikan dewa-dewa tanpa malu senantiasa menutupi aib para jagoannya.

Karena doa Arjuna pula bayi itu tumbuh menjadi pemuda yang idiot. Kelak dalam perang bharatayuda Lesmana Mandrakumara mati dibunuh oleh Abimanyu – putra Arjuna dengan Sumbadra.
Akhirnya Bharatayuda memasuki hari keempat belas. Kurawa menampilkan senopati tangguh, Drona. Kubu Pandawa mengalami kerusakan hebat. Siapa yang bisa menandingi kesaktian Drona? Hanya Kresna – titisan wisnu – yang sanggup membendung Drona. Tetapi Kresna sudah berjanji tidak akan turun langsung dalam kancah peperangan. Kresna diam, seperti biasa ia memohon agar dibuka rahasia langit.

“Kabarkan pada Drona bahwa Aswatama telah mati. Berbohonglah karena ini siasat perang.”

“Aswatama mati! Aswatama mati!.” Kurusetra gempar, Drona terguncang. Drona melolong bagai anjing mencium arwah.

“Wahai manusia benarkah Aswatama anakku sudah mati?” Teriakan itu begitu nyaring. “Dimanakah dikau wahai Aswatama putra terkasihku?” Tidak ada jawaban. Berulang-ulang tetap tidak ada jawaban. Akhirnya Drona terpaksa menemui Pandawa, pribadi-pribadi yang dikenalnya jujur. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa semua mengatakan Aswatama telah mati sesuai pesan Kresna. Drona melolong perih. Ia lebih baik mati saja menyusul Aswatama sesuai sumpahnya. Tetapi Drona tidak lantas percaya sebelum menyaksikan sendiri jasad putranya.

“Dimana Yudistira? Aku harus menanyakan padanya karena ia paling jujur di muka bumi.”

Yudistira sengaja bersembunyi menghindari pertanyaan Drona. Walau ini strategi perang ia tetap tidak mau berbohong. Apapun yang terjadi ia harus jujur. Itu sudah darmanya. Kresna memahami, cepat atau lambat Drona akan menemukan Yudistira dan akan terbongkarlah rahasia itu, bahwa Aswatama memang belum mati. Ditemuinya Yudistira.

“Wahai putra Pandu, katakan pada Drona bahwa Aswatama telah mati.”

“Tidak kakang, bagaimana dunia menilaiku kelak jika aku harus berbohong.”

Kresna memahami bahwa Yudistira bukan pribadi yang bisa ditawar. Dengan perhitungan yang luar biasa Kresna membawa seekor gajah yang langsung dibawa kehadapan Yudistira.

“Ketahuilah gajah ini aku beri nama Aswatama.”

Lalu gajah itu dibunuhnya.

“Lihatlah Gajah Aswatama telah mati. Jika kau ditanya Drona, ceritakan bahwa Gajah Aswatama telah mati. Namun pada saat dinda mengucapkan kata “Gajah” hendaknya dipelankan sehingga kuping tua Drona hanya mendengar Aswatama telah mati.”

Sejurus kemudian Drona datang.

“Wahai Yudistira, benarkah Aswatama telah mati?”

“Benar, (Gajah) Aswatama telah mati.” Pengucapan gajah begitu pelan sehingga Drona yakin bahwa Yudistira, sang manusia jujur, telah menjadi saksi kematian Aswatama.

Drona menjerit. Ia tidak lagi menghiraukan statusnya sebagai senopati, ia berlari sambil berteriak seperti orang gila. Kresna menyimpulkan inilah saat yang tepat untuk membunuh Drona. Saat kewaspadaan telah menguap dari raganya. Saat Aswatama sejati belum muncul di medan perang. Tetapi siapa yang sanggup membunuhnya? Drona tetap berbahaya. Tidak ada yang berani menyongsong tubuh yang terus melolong itu dari arah depan.

“Panggil Drestajumna”, titah Kresna pasti.

Dilangit tinggi puluhan gagak melayang kesana-kemari. Suaranya yang buruk membuat gigil pendengarnya. Drestajumna, mesin pembunuh itu, telah menunggu peran dan takdirnya. Sebagai mesin pembunuh ia merasa tidak terikat darma dan hukum perang. Tanpa perasaan Drona yang tengah kalang kabut ditebasnya dari belakang. Perlahan tubuh itu tumbang. Semua terdiam. Kurusetra terkesima. Babak baru akan terjadi.
Dengan cepat senja sore mengundurkan diri berganti malam layu yang sendu. Yudistira menunduk pilu. Di langit tinggi para dewa pura-pura tidak tahu.
Kehilangan benteng terbaiknya Kurawa akhirnya kalah.

**********

Cinta berbirahi memang tidak mengenal malu. Begitu perang usai, Banowati – permaisuri Doryudana – menyeberang ke kubu Pandawa dan diperistri oleh Arjuna. Aswatama yang luput dari maut karena bukan termasuk figur yang diincar menyimpan dendam kesumat pada Pandawa yang telah membunuh ayahnya secara licik. Ia merencanakan balas dendam dengan cara membunuh bayi Parikesit, cucu Arjuna. Dengan terbunuhnya Parikesit dipastikan klan Bharata akan punah dan menjadikan kemenangan Pandawa tidak berarti lagi.

Bersama Kartamarma, sahabatnya, ia menggali lubang di tanah, meniru landak, menembus benteng Pandawa. Saat Aswatama muncul ditengah Benteng alangkah terkejutnya ia tatkala matanya bersirobok dengan tubuh cantik yang dikenalnya, Banowati. Karena hendak menjerit disongsongnya tubuh Banowati dengan keris. Wanita pujaannya itu meregang nyawa dalam pelukannya. Aswatama menyadari betul ia masih mencintai wanita itu. Ia peluk erat tubuh yang nyaris kehilangan denyut itu. Ini pelukan yang pertama sekaligus terakhir. Pelukan kematian, pelukan yang susah untuk ditafsirkan. “Banowati, mengapa harus seperti ini?”

Terjadi kegaduhan didalam benteng, rupanya Kartamarma telah ketahuan pihak musuh. Aswatama segera berkelebat cepat. Dalam sedih dan guncang ia tetaplah anak Drona.

Akhirnya Aswatama menemukan kamar Parikesit. Tanpa pikir panjang ia serbu bayi itu dengan hujaman keris. Kurang beberapa langkah, bayi yang terkejut itu menyepak senjata pasopati yang dipersiapkan di kakinya, meluncur deras menghantam dada Aswatama. Dalam regangan nyawa Aswatama berucap lirih, “tunggu aku Banowati.”

Arya Udawa

Arya Udawa

 Arya Udawa merupakan putra Prabu Basudewa, dan menjadi patih di Dwarawati, yaitu patihnya Prabu Krisna. Patih Udawa berasal dari Widara kandang, dia adalah anak prabu Basudewa dengan nyai Sagopi yang pernikahanya dirahasiakan. Karena nyai Sagopi dulu adalah penari kraton yang sangat cantik parasnya, dan secara diam-diam prabu Basudewa menaruh hati padanya (nyai Sagopi). Alhasil dengan hubungan secara diam-diam tersebut, Nyai Sagopi melahirkan seorang putra yang diberi nama Udawa. Akan tetapi waktu Udawa masih dalam kandungan, ibundanya Nyai Segopi diserahkan kepada Antagopa, dan Udawa terlahir sebagai anak dari Antagopa.

Sejak kecil Udawa sudah berkumpul dengan saudara-saudaranya, yaitu Kakrasana, Narayana dan Roroireng. Sejak kecil sampai dewasa Udawa sering mengikuti kemanapun Narayana (Kresna) pergi, mulai dari Narayana bertapa hingga sampai Narayana diangkat menjadi raja di Dwarawati. Karena kesetianya, maka Udawa diangkat menjadi patih di Dwarawati. Patih Udawa tergolong juga patih yang sakti, jujur, dan selalu mentaati perintah rajanya.

==================================================

Udawa adalah putra dari nyai Segopi. Adalah rahasia besar kerajaan Mandura pada masa prabu Basudewa. Rahasia yang menyatakan bahwa Udawa adalah putra raja Mandura, Basudewa dengan nyai Segopi. Seorang abdi dalem yang berwajah cantik itu telah membuat sang raja terpesona dan jatuh cinta padanya. Hingga suatu hari akhirnya terjadi lah peristiwa yang akhirnya menyebabkan Nyai Segopi mengandung dan melahirkan anak laki – laki yang tampan. Oleh prabu Basudewa diberi nama Udawa dan di beri pusaka kyai Gondo Ludiro, pusaka berwujud keris ligan. Kemudian Nyai Segopi dan bayinya akhirnya di berikan kepada Demang Sagopa atau Antyagopa di Widarakandang.

Pada saat masih muda, Udawa selalu bersama Narayana (Kresna muda) yang saat itu bersama kakaknya, Kakrasana dan adiknya Bratajaya juga diasuh oleh demang Antyagopa. Kemana saja Narayana pergi, Udawa selalu mengikutinya.

Sampai pada saat Narayana berguru kepada Begawan Padmanaba, Udawa pun ikut berguru. Sehingga saat setelah Begawan Padmanaba yang merupakan jelmaan bathara Wisnu memberikan cakra dan wijaya kusuma lalu bersatu dengan Narayana. Narayana kemudian berkata pada Udawa, bahwa suatu saat jika dia menjadi raja, maka Udawa lah yang berhak menjadi patihnya.

Sabda itupun terjadi, setelah berhasil mengalahkan prabu Yudakalakresna dari kerajaan Dwarakawestri atau Dwarawati, Narayana pun menjadi raja di Dwarawati bergelar sri Kresna, dan patihnya tidak lain adalah Udawa.

Setelah resmi menjadi patih di Dwarawati, saat itu Udawa berkeinginan untuk membebaskan bumi Widarakandang dari Negara Mandura, yang saat itu rajanya adalah saudara seayah, prabu Balarama atau Baladewa. Namun keinginan itu membuat prabu Baladewa marah besar karena merasa Udawa akan memberontak. Puncaknya, terjadi pertempuran sengit antara Prabu Baladewa dan patih Udawa yang menginginkan kemerdekaan bumi Widarakandang. Keduanya sama – sama sakti dan tidak ada yang menang dan kalah. Akhirnya Baladewa mengeluarkan senjata pamungkasnya, tombak Nenggala dan Udawa mengeluarkan pusaka warisan ayahnya, keris kyai Gondo Ludiro. Saat kedua pusaka tersebut bertabrakan timbullah api yang sangat dasyat dan menimbulkan Goro – Goro di kahyangan Suralaya. Hyang Narada pun akhirnya menuju ke alam kaswargan mencari sukma Basudewa agar melerai mereka dan menjelaskan semuanya.

Akhirya keduanya pun dilerai oleh sukma Basudewa. Dan Basudewa pun menjelaskan pada Baladewa bahwa bumi Widarakandang sudah di bebaskan dan dimerdekakan sepenuhnya dan di bawah kekuasaan demang Antyagopa waktu itu. Karena sekarang Udawa yang mewarisi, berarti Udawa berhak atas bumi Widarakandang dan bumi Widarakandang bebas serta menjadi bumi merdeka. Baladewa pun akhirnya mau menerima. Dan atas permintaan Basudewa pula lah tombak Nenggala dipotong sedikit pegangannya untuk dijadikan pegangan keris Gondo Ludiro. Setelah semua selesai sukma Basudewa kembali ke kahyangan dan Udawa pun akhirnya berhasil menjadikan bumi Widarakandang sebagai bumi merdeka dan menjadikannya sebagai kepatihan Dwarawati.

Udawa sosok patih yang setia kepada rajanya. Saat lakon Gendreh Kemasan. Udawa berperang dengan prabu Baladewa karena Baladewa terkena fitnah patih Sengkuni, Udawa akhirnya tertembus Nenggala karena kerisnya berhasil direbut oleh Baladewa. Dia tidak mati, dia terus merangkak dan menjauh dari Dwarawati. Tekadnya tidak akan mati sebelum dia bertemu dengan Sri Kresna yang saat itu menghilang dari kerajaan. Akhirnya Udawa mati didepan prabu Kala Supadma jelmaan Sri Kresna. Melihat kesetiaannya itulah, Akhirnya Udawa dihidupkan kembali.

Begitu juga saat Sri Kresna bertapa tidur di Sumur Jalatunda, tepatnya di bale Makambang. Bersama adiknya yang menjadi Senopati Dwarawati, Setyaki dan putra Sri Kresna, Setyaka dia menjaga ketentraman disana. Tidak lama setelah itu datanglah Anoman dan Gathotkaca membantu menjaga ketentraman disana. Udawa lah yang bisa menaklukan Baladewa yang sedang marah – marah dan ingin sekali membangunkan Sri Kresna.

Begitulah Sosok patih Udawa yang tegas, setia dan pantas di contoh. Sebagai patih atau wakil dari raja. Kesetiannya kepada raja sejak masih muda, belum menjadi raja sampai usai perang bharatayuda. 

Arya Setyaki

Arya Setyaki


 Raden Setyaki putera Prabu Setyajid di Lesanpura, ia juga bernama Wresniwira karena merupakan putra Dewi Wresni, dan disebut juga kesatria Lesanpura. Walaupun Setyaki adalah putra mahkota yang akan menggantikan ayahandanya untuk memerintah di Lesanpura, tetapi ia memilih untuk pergi meninggalkan negerinya dan mengikuti iparnya, Prabu Kresna di Dwarawati, yang merupakan seorang titisan Betara Wisnu.
Di negeri Dwarawati Setyaki dianggap sebagai pahlawan, dan karena kesaktiannya, ia mendapat julukan Bimakunting, artinya Sang Bima (Bratasena) yang kerdil.

===================================================

Versi Wikipedia

 Kelahiran

Versi pewayangan Jawa mengisahkan ketika Warsini mengandung, ia mengidam ingin bertamasya menunggang macan putih. Satyajit mendatangkan para keponakannya, yaitu Kresna, Baladewa dan para Pandawa untuk ikut membantu. Ternyata yang berhasil menangkap macan putih idaman Warsini adalah Kresna.

Namun, macan putih tersebut penjelmaan Singamulangjaya, patih Kerajaan Swalabumi yang diutus rajanya, yaitu Prabu Satyasa untuk menculik Warsini. Singamulangjaya segera membawa Warsini kabur begitu naik ke punggungnya.

Kresna yang dicurigai Satyajit segera mengejar Singamulangjaya. Di tengah jalan, Singamulangjaya mencoba mengeluarkan isi kandungan Warsini. Lahirlah seorang bayi yang bukannya mati, namun justru bertambah besar setelah dihajar Singamulangjaya. Akhirnya, bayi tersebut berubah menjadi pemuda dan membunuh Singamulangjaya. Arwah Singamulangjaya bersatu ke dalam diri pemuda itu.

Warsini memberi nama putranya yang sudah dewasa dalam waktu singkat itu dengan nama Satyaki. Kresna pun menemukan mereka berdua. Bersama mereka menyerang dan membunuh Satyasa sebagai sumber masalah. Satyaki kemudian menduduki Kerajaan Swalabumi sebagai daerah kekuasaannya
Sayembara untuk Satyaboma

Dalam pewayangan Jawa dikisahkan Satyaboma dilamar oleh Drona dengan dukungan para Korawa. Tujuan lamaran ini hanya sekadar untuk menjadikan Kerajaan Lesanpura sebagai sekutu Kerajaan Hastina. Satyaki segera mengumumkan sayembara bahwa jika ingin menikahi kakaknya harus bisa mengalahkan dirinya terlebih dulu.

Satu per satu para Korawa maju namun tidak ada yang mampu mengalahkan Satyaki. Bahkan, Drona sekalipun dikalahkannya. Arjuna selaku murid Drona maju atas nama gurunya. Satyaki yang gentar meminta bantuan Kresna. Maka, Kresna pun meminjamkan Kembang Wijayakusuma kepada Satyaki.

Dengan berbekal bunga pusaka milik Kresna, Satyaki dapat menahan serangan Arjuna, bahkan berhasil mengalahkan Pandawa nomor tiga tersebut. Ternyata Kresna juga melamar Satyaboma untuk dirinya sendiri. Dalam pertarungan adu kesaktian, Kresna berhasil mengalahkan Satyaki dan mempersunting Satyaboma.

Dari perkawinan antara Kresna dan Satyaboma lahir seorang putra bernama Satyaka.

Perkawinan Arjuna dengan Rarasati

Perkawinan Arjuna dengan Rarasati

 Prabu Duryodana dihadap oleh Patih Sangkuni, Dursasana, Kartamarma, Durmagati, Citraksa, Citraksi dan Jayadrata. Raja membicarakan berita sayembara di negara Mandura. Raja ingin mengikuti sayembara untuk mendapatkan Rarasati. Para keluarga Korawa diminta siap-siap. Raja minta doa restu kepada Prabu Dhestarastra, Prabu Dhestarastra merestuinya. Patih Sengkuni diminta mengawalnya.

Raja Raksasa di negara Selamiring bernama Prabu Kala Handayaningrat bercerita kepada Patih Kala Sakipu. Raja bermimpi bertemu dengan Rarasati, putri Widarakandhang, daerah negara Mandura. Prabu Kala Handayaningrat menyuruh tiga raksasa untuk melamar Rarasati ke Widarakandhang.

Begawan Abyasa di Wukir Retawu dihadap oleh Arjuna. Sang bagawan minta agar Arjuna pergi ke Mandura mengikuti sayembara. Arjuna meninggalkan pertapaan bersama punakawan.

Prabu Baladewa dihadap oleh Patih Pragota dan Patih Prabawa. Mereka membicarakan rencana Udawa yang mengadakan sayembara. Prabu Baladewa mencemaskan kesaktian Udawa. Patih Pragota dan Patih Prabawa disuruh menguji kesaktian Udawa. Dua Patih dan Prabu Baladewa pergi ke Widarakandhang.

Narayana dihadap oleh Antagopa, Udawa, Dyah Rara Ireng dan Dyah Rarasati. Narayana bertanya maksud Udawa mengadakan sayembara. Udawa menjawab, karena banyak kesatria yang melamar Rarasati. Sayembara dimaksud untuk memperoleh calon suami Rarasati yang sakti. Narayana menyetujuinya.

Patih Pragota dan Patih Prbawa datang, menghalang-halangi keinginan Udawa.

Udawa tidak menghiraukan saran Patih Pragota dan Prabawa, lalu terjadi perkelahian. Dua patih tidak mampu melawan dan akhirnya menyerah kalah. Prabu Baladewa menyetujui rencana Udawa.

Perajurit Korawa bersiap-siap diperbatasan negara Mandura. Jayadrata dan Kartamarma disuruh datang melamar ke Widarakandhang. Mereka menemui Udawa. Udawa menerima lamaran Doryudana, tetapi harus ikut dalam sayembara. Kartamarma marah, Udawa diajak berkelahi. Udawa diserang oleh Kartamarma dan Jayadrata. Kartamarma dan Jayadrata diadu kepalanya, lalu dibuang jauh. Doryudana mengetahui lalu menyerang Udawa dengan membawa gada. Dursasana mengikutinya. Terjadilah perkelahian seru. Duryodana tidak mampu melawan, Sengkuni mengajak lari, kembali ke negara.

Prabu Handayaningrat menerima laporan dari Togog, bahwa utusan raja mati oleh Arjuna. Raja mengajak Patih Sakipu untuk bersiap-siap pergi menyerang kerajaan Mandura

Arjuna dan panakawan tiba di daerah Mandura, lalu menuju ke Widarakandhang. Arjuna bertemu Narayana, ditanya maksud kedatangannya. Arjuna menjawab, bahwa kedatangannya atas perintah Begawan Abyasa untuk mengikuti sayembara. Narayana setuju sekali bila Rarasati diperisteri Arjuna. Udawa dan Rarasati dipanggil, diberitahu maksud kedatangan Arjuna. Udawa menyetujui, tetapi harus mengalahkan dirinya. Arjuna diminta hadir di gelanggang. Terjadilah perkelahian hebat. Udawa tidak mampu melawan kesaktian Arjuna, Rarasati diserahkan kepada Arjuna.

Yudisthira, Wrekodara, Nakula dan Sadewa datang di Widarakandhang, Prabu Baladewa dan Narayana cepat menyongsongnya. Dyah Bratajaya dan Dyah Rarasati mempersiapkan jamuan.

Prabu Handayaningrat datang menyerang kerajaan Mandura. Prabu Baladewa dan Wrekodara menyongsong kedatangan musuh. Terjadilah perang dahsyat. Prabu Baladewa berhasil membunuh raja raksasa, sedang Wrekodara berhasil mengalahkan semua perajurit raksasa.

Prabu Baladewa, Narayana dan keluarga Pandhawa berkumpul di Mandura, merayakan pesta perkawinan Arjuna dan Rarasati.

Antasena

Antasena


Raden Antasena adalah putra Arya Wekudara yang ketiga dengan Dewi Urangayu, putri Sanghyang Baruna, dewi ikan yang berkedudukan di Kisiknarmada. Pertemuan Bima dengan Dewi Urangayu terjadi ketika Resi Druna menguji siswanya di perguruan Sokalima. Saat itu Werkudara diadu dengan duryudana, karena kalah dalam menggunakan gada, Duryudana sakit hati. Ia menyuruh Dursasana agar melenyapkan Werkudara.

Dursasana pura-pura mengadakan pesta memeriahkan pendadaran siswa Sokalima tadi. Dalam pesta itu Werkudara memeriahkan pendadaran siswa Sokalima tadi. Dalam pesta itu Werkudara diajak minum tuak. Karena terlalu banyak minum, Aryaa Sena mabuk dan jatuh pingsan. Dalam keadaan pingsan itulah tubuh Sena diikat lalu diceburkan ke dalam sungai Jamuna. Tubuh Bima hanyut hingga ke Kisik narmada (pertemuan sungai Jamuna dan sungai Gangga). ia ditolong oleh Batara Baruna dan disembuhkan dengan air Rasakunda. Akhirnya Arya Bima dijodohkan dengan putrinya Dewi Urangayu adik Urang Rayung yang menjadi istri Anoman dan berputera Trigangga. Perkawinan Bima dengan Dewi Urangayu inilah akhirnya Arya Sena berputera Raden Antasena, berkedudukan di Kisik Narmada ikut kakeknya.

Bersamaan lahirnya Antasena, kahyangan Suralaya sedang digempur angkatan dari Girikadasar di bawah kekuasaan raja Kalalodra. namun raja raksasa berwajah ikan itu dapat dibinasakan oleh Antasena yang saat itu masih bocah. Dengan keberhasilan menumpas musuh dewa tersebut, Resi Mintuna (kakek Antasena) diangkat menjadi dewa menguasai ikan dengan gelar Batara Baruna.

Ketika Resi Bisma menyelenggarakan perlombaan membuat sungai menuju bengawan Gangga, Kurawa dan Pandawa saling berlomba. Werkudara dibantu pasukan dari Kisik Narmada yang dipimpin oleh Antasena berhasil membuat sungai yang kemudian oleh Bisma diberi nama Sungai Serayu. Kurawa hanya mampu membuat sungai yang tembus ke kali Serayu, maka sungai itu dinamakan Kelawing atau terbalik. Nama Kelawing dalam pedalangan disebut Kali Cingcinggoling.

Ketika usai perlombaan, Kurawa yang sakit hati kembali berusaha ingin membinasakn Pandawa. Ia bersekutu dengan raja Girisamodra Prabu Gangga Trimuka. Atas bujuk Sengkuni, Gangga Trimuka akan menguasai Tribuwana jika dapat membunuh padanwa sebagai tumbalnya. Prabu Gangga Trimuka kemudian menangkap Pandawa dan dipenjara ke dalam gedung kaca bernama Kongedah, sehingga Pandawa mati lemas di dalam penjara gedung kaca tadi.

Mengetahui Pnadawa dipenjara, Antasena melabrak raja Girisamodra. Prabu Gangga Trimuka dibinasakan dengan belai upas (sungut upas Jw.) dan Pandawa dikeluarkan dari Kongedah. Melihat kondisi Pandawa mati lemas, Antasena segera menghidupkan kembali dengan air kehidupan Madusena. Atas kemufakatan Pandawa, negara Girisamodra kemudian diserahkan kepada Antasena.

Tidak berbeda dengan Antareja, kakaknya. Antasena juga memiliki sisik pada kulitnya yang berfungsi untuk menangkal senjata tajam. Keduanya juga dapat membenamkan diri ke dalam tanah dan tak akan mati jika tubuhnya masih menyinggung air ataupun tanah. Dalam pedalangan, Antasena kawin dengan Dewi Manuwati, putri Arjuna dan Dewi manuhara.

Gatotkaca Lahir

Gatotkaca Lahir

 Setelah sekian lama ditunggu-tunggu akhirnya Dewi Arimbi mengandung anak dari Bima. Seluruh rakyat Pringgandani sangat bersukacita, dikarenakan anak ini akan menjadi generasi penerus sebagai Raja di Pringgandani bila Dewi Arimbi sudah tiada.

Saat itu seluruh putra Pandawa disertai Sri Batara Kresna tidak ketinggalan seluruh punakawan Semar, Astrajingga, Dawal dan Gareng berkumpul di Istana Pringgandani, merka sedang berkumpul menunggu saat kelahiran sang putra Bima. Tidak lama berselang terdengar tangisan bayi menggelegar menggentarkan seantero Pringgandani, seluruhnya yang berada di bangsal menarik nafas panjang. Sesaat kemudian ada emban yang menghaturkan berita bahwasanya sang putra mahkota laki-laki telah lahir dalam keadaan sehat begitu juga dengan kondisi sang ibu. Mendengar hal tersebut bertambahlah kebahagian semuanya, satu persatu dari mereka memberikan selamat kepada Raden Aria Werkudara alias Bima atas kelahiran putrannya.


Beberapa waktu kemudian mereka bisa masuk menjenguk kedalam kamar, disana terlihat Dewi Arimbi sedang berbaring diatas ranjang berhiaskan emas permata beralaskan sutera berwarna biru terlihat senang dengan senyum mengembang dibibirnya menyambut kedatangan Bima diiringi oleh seluruh kadang wargi (saudara). Tidak jauh dari tempatnya berbaring terlihat sebuah tempat tidur yang lebih kecil, diatasnya tergolek seorang bayi laki-laki sangat gagah dan tampat layaknya ksatria trah dewa, hanya saja ari-ari dari bayi tersebut masih menempel belum diputus. Ketika hal tersebut ditanyakan emban menjawab bahwa seluruh upaya untuk memotong tali ari-ari tersebut selalu gagal. Tidak ada satu senjatapun yang berhasil memotongnya.


Mendengar hal tersebut Bima sangat gusar dan meminta tolong kepada saudara-saudaranya untuk memotong tali ari-ari anaknya yang diberinama Jabang Tutuka. Bima mencoba memotong dengan kuku pancana gagal, diikuti oleh Arjuna mencoba menggunakan seluruh senjatanya diawali dengan keris Pancaroba, keris Kalandah, panah Sarotama bahkan panah Pasopati semuanya gagal. Sri Batara Kresna yang saat itu hadir mencoba dengan senjata saktinya Cakra Udaksana, hanya menghasilkan percikan-percikan api ketika dicoba memotong tali ari-ari itu. Semuanya terbengong-bengong merasa takjub dan heran disertai rasa putus asa, Dewi Arimbi hanya bisa menangis melihat hal tersebut dirundung rasa khawatir jika anaknya harus membawa tali ari-ari hingga dewasa. Ditengah suasana tersebut tanpa diketahui sebelumnya Begawan Abiyasa yang tak lain kakek dari para Pandawa atau buyut dari Jabang Tutuka telah hadir ditempat tersebut, semua yang hadir memberikan sembah sungkem kepadanya. Begawan yang sakti mandraguna ini mengatakan bahwa tali ari-ari itu hanya akan bisa dipotong oleh senjata kadewatan yang berasal dari Batar Guru. Untuk itu Sang Begawan meminta Arjuna untuk pergi ke Kahyangan mencari senjata tersebut. Setelah mendapat perintah dari kakeknya dan meminta ijin kepada saudara-saudaranya Arjuna disertai oelh para punakawan segera menuju Kahyangan untuk mencari senjata yang dimaksud oleh Begawan Abiyasa, sedangkan Sang Begawan sendiri bergegas pulang kembali ke Padepokan setelah memberikan do’a serta merapal beberapa mantra untuk buyut / cicitnya tersebut.


Nun jauh di Kahyangan sana keadaan sedang gonjang-ganjing dikarenakan serangan dari Naga Percona yang ingin memperistri salah satu bidadari yang bernama Dewi Supraba. Dikarenakan Naga Percona bukan sembarang makhluk, dia adalah raja yang mempunyai kesaktian mumpuni dan bisa dikatakan sama bahkan sedikit diatas diatas para dewa, jelas sangat merepotkan barisan dewa-dewa yang dipimpin oleh Batara Indra dalam menghadapi nya. Serangan petir Batara Indra tidak ubahnya lemparan daun-daun kering dari anak-anak, kobaran api Batara Brahma hanya menjadi menjadi mainan saja. Batara Bayu yang mendoronganya dengan badai besar tidak membutnya mundur walaupun seujung kuku, bahkan badannya tidak goyang sedikitpun. Cakra Udaksana dari Batar Wisnu sama sekali tidak mencenderainya, singkatnya para dewa dipukul mundur dengan kondisi babak-belur.


Batara Guru merapal mantra dan melihat Kaca Trenggana, diperoleh keterangan bahwa yang bisa mengalahkan Naga Percona hanyalah Jabang Tutuka anak Bima yang baru lahir. Selanjutnya Batara Guru memerintahkan Batara Narada untuk memberikan senjata darinya yang bernama panah Konta Wijayadanu kepada Arjuna untuk memotong ari-ari Jabang Tutuka dengan imbalan bayi tersebut harus menjadi panglima perang mengahadapi Naga Percona. Disaat yang bersamaan Aradeya atau Karna sedang bertapa di tepi Sungai Gangga mencari senjata sakti untuk dirinya, pada saat Batara Narada mendekati tempat tersebut hatinya senang karena Aradeya ini disangkanya Arjuna, karena rupanya benar-benar mirip dan Batara Surya yang merupakan ayah dari Aradeya sengaja mengeluarkan sinar berkilauan disekitar Aradeya sehingga Batara Narada tidak terlalu jelas melihatnya, sehingga tidak sadar bahwa orang yang diserahi senjata tersebut bukanlah Arjuna.


Setelah mendapatkan senjata sakti kadewatan Aradeya sangat gembira dan langsung berlari tanpa mengucapkan terima kasih kepada Batara Narada, hal itu membuat Batara Narada tersadar bahwa dia salah orang, tidak lama kemudian Arjuan disertai oleh para Punakawan datang ketempat tersebut, dengan sedih Batara Narada bercerita bahwa dirinya telah salah orang menyerahkan senjata kadewatan yang seharusnya diserahkan kepada Jabang Tutuka lewat tangan Arjuna, malah diserahkan kepada orang yang tidak dikenal dan mempunyai rupa mirip dengan Arjuna. Mendengar hal tersebut Semar sangat menyalahkan Batara Narada karena gegabah menyerahkan senjata sakti kepada orang asing, serta segera meminta Arjuna mengejar orang tersebut.


Arjuna berlari dan berhasil menyusul Aradeya, awalnya senjata tersebut diminta baik-baik dan dikatakan akan digunakan olehnya untuk memotong tali ari-ari keponakannya. Aradeya tidak menggubrisnya akhirnya terjadi perang-tanding memperebutkan senjata tersebut, sampai suatu ketika Arjuna berhasil memegang sarung senjata tersebut sedangkan Aradeya memegang gagang panah Konta Waijayadanu. Mereka saling tarik dan akhirnya terjerembab dikarenakan senjata Konta lepas dari warangka / sarungnya. Kemudian Aradeya berlari kembali dan kali ini Arjuna kehilangan jejak.


Dengan sedih hati Arjuna menunjukkan warangka senjata Konta kepada Semar, kemudian atas saran Semar mereka kembali ke Pringgandani sedangkan Batara Narad disuruh pulang ke Kahyangan dan dikatakan bahwa Jabang Tutuka akan segera dibawa ke Kahyangan. Sesampainya di Keraton Pringgandani warangka tersebut digunakan untuk memotong tali ari-ari Jabang Tutuka, ajaib sekali tali ari-ari putus sedangkan warangka senajata kadewatan itu masuk kedalam udel Jabang Tutuka. Hal ini menurut Semar sudah menjadi suratan bahwa nanti diakhir cerita peperangan besar / Bharata Yuda senjata itu akan masuk kembali kewarangkanya, dengan kata lain Jabang Tutuka akan mati jika menghadapi senjata Konta Wijayadanu.


Setelah tali ari-ari berhasil dipotong Arjuna hendak membawa Jabang Tutuka ke Kahyangan untuk memenuhi janji kepada Batara Narada, bahwa Jabang Tutuka akan menjadi panglima perang dan menghadapi Naga Percona. Awalnya Bima melarang karena anaknya masih bayi dan dirinya sanggup untuk menggantikan melawan Naga Percona. Setelah Semar berkata bahwa Jabang Tutukalah yang harus berangkat karena dia yang dipercaya oleh dewa dan Jabang Tutuka pula yang telah menggunakan senjata kadewatan bukan yang lain. Disamping itu Semar menjamin jika terjadi suatu hal yang menyebabkan Jabang Tutuka celaka, Semar berani menaruhkan nyawanya kepada Bima. Mendengar hal tersebut dari Semar, Bima yang mempunyai pandangan linuwih dan menyadari siapa sesungguhnya Semar ini, akhirnya mengijinkan putra berperang melawan Naga Percona.


Arjuna disertai par Punakawan segera membawa Jabang Tutuka ke Kahyangan, setelah mendekati gerbanga Selapa Tangkep tepatnya di Tegal Ramat Kapanasan Arjuna meletakkan Jabang Tutuka ditengah jalan menuju gerbang. Selanjutnya Arjuna memperhatikan dari jauh bersama dengan para dewa, tak lama berselang Naga Percona datang dan melihat ada bayi ditengah jalan. Dia meledek Batara Guru yang dikatakannya sudah gila karena menyuruhnya bertarung dengan bayi yang hanya bisa menangis. Kemudia dia mengangkat Jabang Tutuka dan mendekatkan wajahnya ke wajah bayi tersebut, tidak disangkan tangan Jabang Tutuka mengayun dan berhasil meluaki satu matanya sehingga berdarah. Kontan Naga Percona marah dan membanting Jabang Tutuk kea rah pintu gerba hingga mati. Melihat hal tersebut para dewa tak terkecuali Batar Guru, Batara Narada dan Arjuna kaget dan was-was jika Bima sampai tahu anaknya mati oleh Naga Percona pasti akan mengamu ke Kahyangan. Hanya saja Semar dengan cepat berbisik ke Batara Guru untuk segera menggodok Jabang Tutuka di Kawah Candradimuka, Batara Guru segera memerintahkan Batara Yamadipati untuk segera membawa tubuh Jabang Tutuka ke Kawah Candradimuka dan menggodoknya. Selanjutnya para dewa disuruhnya melemparkan / mencampurkan senajata yang dimilikinya untuk membentuk tuduh Jabang Tutuka lebih kuat, lama-kelamaan terbentuklah tubuh satria gagah dari dalam godogan tersebut. Kemudian para dewa membirkannya pakaian dan perhiasan untuk Jabang Tutuka yang baru tersebut, selanjutnya diakarenakan dia mati belum waktunya berhasil dihidupkan kembali oleh Batar Guru.


Selain mendapat anugerah berupa pakaian, perhiasan dan senjata yang sudah membentuk tubuhnya Jabang Tutuka juga memperoleh beberanama dari para dewa diantaranya : Krincing Wesi, Kaca Negara, Purabaya, Kancing Jaya, Arimbi Suta, Bima Putra dan Gatotkaca. Nama terakhir inilah yang kemudian digunakan dalam dunia pewayangan. Dengan tampilan yang sangat beda dari sebelumnya Jabang Tutuka yang menggunakan nama baru Gatotkaca bertempur kembali dengan Naga Percona, dan akhirnya behasil merobek mulut dan tubuh Naga Percona menjadi dua bagian. Itulah akhir dari hidupnya Naga Percona yang membawa kedamaian di Kahyangan, sekaligus menjadi awal kepahlawanan Gatotkaca sang putra Bima.